Rumus Keberhasilan

  • Kamis, 18 Mei 2017 18:34 WIB

Rumus keberhasilan | Dok. Majalah Bobo

Hari ini  Pak Ober, pengusaha kaya, berulang tahun. Pada malam hari ia mengadakan pesta di antara keluarga dan kawan-kawan. Tapi, siang harinya ia mengadakan acara istimewa sendiri. Pak Ober berjalan menuju ke kolong jembatan. Ada pemulung yang sedang membereskan kertas dan karton. Beberapa orang sedang berjudi dan ada juga orang-orang yang sedang tidur pulas, tidak menghiraukan hiruk-pikuk suasana. Pak Ober mendekati gelandangan muda yang sedang duduk termenung seorang diri. Pakaiannya lusuh dan rambutnya kusut dan gondrong.

"Siapa namamu? Ikutlah aku. Aku akan menraktirmu makan siang di restoran!" kata Pak Ober.

"Namaku Helmut. Mengapa Bapak mau menraktirku?" tanya Helmut.

Wajahnya yang kumal dan berjenggot menampilkan rasa heran dan kuatir."Hari ini aku berulang tahun ke-50. Aku ingin ada orang yang menemaniku makan siang dan berbincang-bincang! Hanya itu saja, tak ada maksud lain!" kata Pak Ober.

Melihat roman muka Pak Ober yang  baik dan kata-katanya yang ramah, Helmut mengangguk. Mula-mula Pak Ober mengajak Helmut ke tukang pangkas. Sesudah mencuci muka, memangkas rambut dan jenggot, Pak Ober membelikan celana panjang, kemeja, dan sepatu.Pak Ober menyuruh Helmut melihat dirinya di kaca etalase sebuah toko dan Helmut tersenyum. Rasanya ia menjadi seseorang yang lain.Mereka berdua makan di restoran besar. Wah, sudah lama Helmut tidak menikmati makanan selezat itu. Ia makan dengan lahap.

"Senang benar bila menjadi orang kaya seperti Bapak!" kata Helmut.

Pak Ober tersenyum.

"Aku bilang senang benar menjadi anak muda. Badan sehat, kesempatan terbuka luas untuk berhasil. Lebih mudah belajar ketimbang orang yang sudah tua, tenaga masih penuh!" kata Pak Ober.

"Ah, walaupun muda, hidupku susah. Untuk makan sehari-hari saja harus menunggu belas kasihan orang!" keluh Helmut.

"Itu kemarin. Mulai hari ini tidak lagi. Aku akan memberikan rumusnya supaya kamu berhasil," kata Pak Ober.

la meneguk minumannya dan Helmut menyeka mulutnya. Perutnya sudah kenyang dan ia sangat berminat mendengarkan kata-kata Pak Ober, orang kaya aneh yang baru dikenalnya.

"Maaf, Pak, sebelumnya aku ingin bertanya. Mengapa justru Bapak mengajak aku untuk makan siang dan bukan orang lain?" tanya Helmut.

Pak Ober tersenyum. "Ah, kebetulan saja. Orang kaya suka aneh-aneh. Tiba-tiba saja hari ini aku ingin pergi ke kolong jembatan dan mengajak seseorang makan siang dan aku bertemu dengan kamu," jawab Pak Ober.

"Oh, ya, rumus keberhasilan itu mudah diingat. Pertama, carilah Tuhan dulu dan rajin berdoa. Kemudian rajin bekerja. Jangan biarkan tanganmu menganggur. Lalu rajin belajar dan manfaatkan kesempatan yang ada. Otakmu harus terus memikirkan hal-hal yang baik. Kalau uangmu belum banyak, engkau harus sangat berhemat. Jika tidak benar-benar perlu, jangan keluarkan uang!" Pak Ober menjelaskan rumusnya.

Helmut menghafalkan kata-kata itu. Tak lama kemudian mereka berdua berpisah. Sebelum berpisah, Pak Ober berkata, "Tahun depan kita akan bertemu di restoran ini pada jam yang sama dan kita akan bercerita lagi.”

Helmut kembali ke kolong jembatan. Rekan-rekannya heran dan menyarankan agar Helmut menjual pakaiannya dan menraktir mereka minum-minum. Tapi Helmut tidak mau. Helmut menyendiri dan berdoa. Ia mohon agar Tuhan memberinya pekerjaan. la teringat bahwa orang-orang suka berdiri di pinggir jalan di bawah pohon dan menggantungkan karton di dadanya dengan tulisan: TOLONG BERIKAN AKU PEKERJAAN.

Segera Helmut mencari karton dan tali, menuliskan karton itu dengan arang yang dipungutnya di jalan dan pergi ke bawah pohon di tepi jalan. Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti. Helmut diajak ke sebuah pesta pemikahan dan ia bertugas mengambil piring-piring dan gelas yang kotor. Sore itu ia mendapat uang. Dan ia membungkus uang yang didapatnya. la sangat senang. la menawarkan diri dan diterima bekerja di perusahaan catering tersebut.

Setelah beberapa hari bekerja, Helmut berpikir, "Aku selalu berdoa dan bekerja, tapi aku belum belajar. Kata Pak Ober aku harus belajar!"

Bulan depannya Helmut mengikuti kursus memasak. Sekarang ia merasa senang, karena mempunyai  pekerjaan, simpanan uang, dan ia sedang belajar. Di tempat kerjanya ia rajin membantu koki dan majikannya sayang kepadanya karena ia demikian rajin.

Namun, ada kawannya yang iri hati. Ketika Helmut membuat sambal,kawannya memasukkan cicak mati ke dalam sambal. Jadi ketika pesta berlangsung dan orang menemukan cicak dalam sambal terjadi kegemparan. Helmut dimarahi walau tidak bersalah dan ia pun dipecat.

Maka Helmut harus mulai dari permulaan. la membeli bahan-bahan dan membuat kue, lalu menjajakan kuenya. la juga mengunjungi bekas majikannya dan menawarkan kuenya. Ketika itu majikannya sudah merasa bahwa sebenarnya Helmut tidak bersalah. Tapi ia harus mengeluarkan Helmut. Kalau tidak, mungkin ada yang membuat ulah lain yang bisa merugikan perusahaan.

Jadi Helmut mendapat pesanan kue yang cukup banyak. Karena tidak bisa mengerjakan sendiri, ia mencari pembantu. Sekarang ia bisa berusaha dengan tenang. la terus ingat nasihat Pak Ober: Berdoa, bekerja, belajar, hemat, dan manfaatkan kesempatan.Helmut juga mencari pesanan dari tempat lain dan mengembangkan usahanya.

Setahun kemudian sesuai janjinya ia bertemu lagi dengan Pak Ober di restoran. la membawakan kue buatannya dan menceritakan pengalamannya. Setelah selesai makan, dan mereka akan berpisah, Pak Ober berkata, "Tahun depan kita tidak bertemu lagi di sini. Engkau  kuundang ke pesta ulang tahun di  rumahku!"

"Kalau aku berulang tahun, aku akan mengundang Bapak di rumah makan yang sederhana. Dan aku juga akan mengundang makan seorang gelandangan dan membagikan rumus keberhasilan!" kata Helmut.

"Itu gagasan yang bagus. Aku pun akan membagikan rumus keberhasilan ini pada orang-orang yang belum berhasil. Tidak setahun sekali, tapi kapan saja aku sempat melakukannya!" kata Pak Ober.

Kedua orang itu pun berpisah. Helmut yang dulu gelandangan, kini sudah jadi pengusaha kue kecil-kecilan. Itu terjadi karena ada seseorang yang mau mendekatinya. Apakah kamu mau mendekati kawan-kawanmu yang kurang beruntung dan memberikan sesuatu pada mereka?

Sumber: Arsip Bobo. Cerita: Widya Suwarna.

Sumber : dok. Majalah Bobo

Reporter : Sylvana Toemon
Editor : Sigit Wahyu

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×