Cecil si Naga Pemalas

  • Sabtu, 10 Februari 2018 15:00 WIB

Cecil si naga pemalas | Dok. Majalah Bobo

Cecil Naga sudah beranjak dewasa. Namun ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Rumah mereka yang mungil, amat rapi dan bersih. Kecuali kamar Cecil. Cecil memang naga pemalas. Tapi sebenarnya ia punya kelebihan. Napasnya bisa mengeluarkan api yang sangat panas. Bisa membuat masakan matang, hanya dengan sekali dengus.

Kegemaran Cecil membaca komik. Bisa seharian ia tiduran di ranjang, membaca puluhan seri buku. Menurut Cecil, "Untuk apa bekerja, kalau tanpa berbuat sesuatu pun sudah bisa menikmati hidup?"

Mamanya sering bertanya, "Kelak kau ingin jadi apa, Cecil? Tak mungkin kau begini terus sampai tua."

"Cecil, pergilah mencari pekerjaan," begitu biasanya papanya menyambung, dengan wajah merah menahan marah.

“Jangan cemas, Pap dan Mam tercinta," begitu selalu jawaban Cecil. Sambil menggoyangkan ekornya dengan santai. "Saat ini untuk apa aku pusing-pusing cari kerja? Aku sudah mendapat segala yang kuinginkan."

Suatu hari, seperti biasa, Cecil bergulingan di ranjang membaca buku komik. Papa pergi kerja, Mama pergi belanja. Setelah menarik napas dalamdalam, Cecil menghembus sambil bergumam, "Aaah, nikmatnya hidup ini!"

Tanpa disadarinya titik-titik api dari dengusnya memercik ke gorden kamarnya! Cecil baru sadar setelah mencium bau asap. Tubuhnya terasa hangat. Tapi Cecil cuma menggoyang bahu. Kenapa harus repot-repot? Nanti, Mama atau Papa yang akan membereskan.

Namun nyala api semakin besar. Berkobar di sekitarnya. Seluruh rumah dijilati api, termasuk ranjang dan komik-komik Cecil! Naga malas itu akhirnya lari keluar kamar sebelum rumahnya roboh.

Cecil tidak terluka. Cuma ekornya melepuh. Ia lari ke kolam angsa untuk mendinginkan ekornya. Sssss... terdengar suara berdesis.

Ketika Mama Papa Cecil pulang kerja, tampak Cecil masih mengenakan piyama, meringkuk di halaman depan. Di belakang nampak rumah mereka yang kini sudah menjadi puing-puing. Kali ini kelakuan Cecil sudah keterlaluan. Mamanya sedih sekali. Dihabiskannya dua puluh satu saputangan untuk mengeringkan air matanya. Papanya marah sekali, wajahnya berubah semerah apel. Diomelinya Cecil lebih setengah jam. Tapi Cecil tidak mendengarkan. Pikirannya menerawang.

Sumber : dok. Majalah Bobo

Reporter : Sylvana Toemon
Editor : Sylvana Toemon

KOMENTAR

MOST READ

Cerita

Putri Mandi

8 jam yang lalu

Cerita

Kamar Nomor 18

2 jam yang lalu

Cerita

Detektif Makan Siang

7 jam yang lalu

Cerita

Benda Antik dari Girimeda

24 jam yang lalu

Cerita

Cerita

Cergam Bona: Baju Hangat

3 jam yang lalu

MOST READ

Putri Mandi

8 jam yang lalu

Tong Gendut

2 hari yang lalu

Cergam Bobo: Terlalu Lelah

3 hari yang lalu

Rumah Nomor 6

3 hari yang lalu

Sendiri di Rumah

1 hari yang lalu

Bertengkar dengan Bayangan

1 hari yang lalu

Perkedel Sukun

1 hari yang lalu

Kamar Nomor 18

2 jam yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×