Keajaiban Pada Malam Bulan Biru

  • Minggu, 10 September 2017 19:00 WIB

Keajaiban pada malam bulan biru | Dok. Majalah Bobo

Sore itu, Peter berjalan menyusuri koridor apartemennya yang bobrok dan sempit. Wajahnya tampak muram karena ia baru saja dipecat. Toko tempatnya bekerja bangkrut.

“Ted… Ted… air… air…,” terdengar suara rintihan Kakek Tom dari pintu apartemennya yang sedikit terbuka.

Peter masuk ke dalam apartemen Kakek Tom. Kakek Tom terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya agak demam. Peter mengambilkannya minum dan mengompresnya.

“Ted?” tangan keriput Kakek Tom menggenggam tangan Peter.

“Bukan, Kek, ini Peter,” jawab Peter. Kakek Tom mengangguk pilu. Peter tahu Kakek Tom amat merindukan Ted, cucu satu-satunya. Entah kenapa, Ted tak pernah mengunjunginya, padahal Kakek Tom sudah lemah tubuhnya.

Peter menyuapi Kakek Tom bubur dan menemaninya sampai tertidur. Setelah itu, Peter kembali berjalan menyusuri koridor.

“Kak Peter?” panggil Rossy dari apartemen di samping apartemen Kakek Tom.

“Halo, Rossy,” sapa Peter sambil membuka pintu apartemen Rosy. Rossy menghampirinya dengan kursi rodanya.

“Tolong betulkan kotak musik balerinaku, Kak,” pinta Rossy.

Peter mengambil kotak musik berhiaskan balerina yang bisa berputar. Kotak musik itu sering rusak, tetapi itu harta terindah Rossy. Rossy punya cita-cita menjadi balerina. Ia amat berharap suatu saat ia bisa berjalan dan menari kembali.

Sumber : dok. Majalah Bobo

Reporter : Sylvana Toemon
Editor : YANTI

KOMENTAR

MOST READ

Misteri Surat Perpisahan

3 hari yang lalu

Tiga Tangkai Mawar

22 jam yang lalu

Bintang Pensi

2 hari yang lalu

Mengomel Bersama

3 hari yang lalu

Ayah Pulang

2 hari yang lalu

Lukisan Kasih Sayang

20 jam yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×