Musim Semi untuk Delia

  • Rabu, 15 November 2017 15:00 WIB

Musim Semi untuk Delia | Public Domain

 

Satu, dua, tiga, sepuluh...  Dua puluh pasang kaki bertaut di cabang tanaman bunga ungu. Ia adalah Delia, si ulat yang sangat gendut, mengilap, dan sedikit menyeramkan. Walaupun tubuhnya berbalut warna hijau yang indah dan terang, tidak ada yang berani mendekati dirinya. Bercak hitam dan kuning di tubuhnya, membuat serangga lain takut padanya. 

Delia sangat sedih, sendirian. Karena tak ada yang mengajaknya bermain, maka ia mengunyah daun-daun seharian. 

Pada suatu hari, ia merasa sangat kelaparan. Delia mengunyah cukup banyak daun-daun murbei. Setelah kekenyangan, ia merasa sangat mengantuk. Rasa kantuk yang tidak tertahankan.

"Ibu pernah bercerita. Kalau aku merasa mengantuk luar biasa, itu artinya aku akan tidur panjang. Maka aku harus menyiapkan benang-benang untuk kempompongku," gumam Delia. 

Maka, sambil menahan kantuknya, ia pun mengeluarkan air liurnya dan membuat benang-benang untuk kepompongnya. Cukup lama Delia merajut benang-benang yang ditempelkannya di bawah ranting pohon. Setelah pekerjaannya itu selesai, Delia lalu tertidur pulas di dalam kempompong. Ada lubang kecil di kepompongnya itu agar udara tetap bisa masuk untuk ia bernapas. 

Selama beberapa hari, Delia tidak terlihat. Teman-temannya mulai merasa khawatir. Delia masuk ke dalam kepompong, tak juga keluar.  

"Delia, apa kau sedang sakit?" panggil seekor capung. 

"Apakah Delia mati?" tanya seekor kumbang panik.

Ternyata tidak.  Musim semi pun tiba. Delia terbangun di dalam kekompongnya. 

Sumber : (Dok. Majalah Bobo / Fabel)

Reporter : Vanda Parengkuan
Editor : Vanda Parengkuan

KOMENTAR

MOST READ

Misteri Surat Perpisahan

3 hari yang lalu

Tiga Tangkai Mawar

22 jam yang lalu

Bintang Pensi

2 hari yang lalu

Mengomel Bersama

3 hari yang lalu

Ayah Pulang

2 hari yang lalu

Lukisan Kasih Sayang

20 jam yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×