Kenapa Sashimi Ayam Dilarang?

  • Senin, 11 September 2017 16:34 WIB

Sashimi Ayam | Creative Commons - Sakoppi

Sashimi ayam merupakan salah satu menu baru yang ada di restoran jepang. Di negara asalnya, makanan ini sudah ada sejak satu tahun lalu (2016). Tapi, banyak pihak yang melarang makanan ini disajikan. Kenapa, ya?

Alasan Pertama

Daging ayam yang akan dijadikan sashimi hanya direbus atau dibakar dalam waktu 10 detik. Setelah itu, daging akan diiris tipis-tipis dan disajikan. Karena dimasak dalam waktu singkat, bagian dalam dari daging ayamnya masih berwarna merah muda (mentah). Menurut beberapa ahli kesehatan, daging ayam harus dimasak hingga matang. Jika tidak, bakteri yang ada di dalamnya akan tetap hidup dan menganggu kesehatan kita. Daging ayam yang sudah matang biasanya berubah warna menjadi putih.

Alasan Kedua

Bakteri Campylobacter dan Salmonella bisa hidup di dalam daging ayam mentah. Kedua bakteri ini bisa menyebabkan sakit perut, diare, demam, dan kram perut. Menurut Pak ben Chapman, seorang yang ahli dalam bidang keamanan makanan, dua bakteri ini bisa membuat seseorang keracunan hingga mual dan muntah.

Bagaimana dengan Sashimi Ikan?

Ikan mentah yang dijadikan sashimi juga mengandung parasit yang bisa membuat seseorang sakit. Tetapi, parasit yang menempel pada ikan itu bisa dihilangkan saat ikan dibekukan. Bakteri salmonella berbeda, ia kebal terhadap pembekuan. Bakteri salmonela hanya bisa dihilangkan dengan suhu panas.

Itulah dua alasan kenapa sashimi ayam dilarang disajikan. Untuk menghindari bakteri dan parasit, selalu masak makananmu dengan suhu panas dan waktu yang cukup!

Kotak Fakta:

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang meminta beberapa restoran untuk memeriksa kembali menu sashimi ayam yang mereka sajikan.  

Sumber: Kompas.com

Reporter : willa widiana
Editor : Iveta Rahmalia

KOMENTAR

MOST READ

Hantu Pencopet

3 hari yang lalu

Legenda Empat Musim

3 hari yang lalu

Alunan Gitar Misterius

2 hari yang lalu

Guling Pocong

3 hari yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×