Pak Kindo dan Petito

By Vanda Parengkuan, Sabtu, 17 Maret 2018 | 08:00 WIB
Pak Kindo dan Petito (Vanda Parengkuan)

Pak Kindo adalah petani yang lembut hatinya. Suatu hari, ia menemukan seekor burung yang sayapnya patah. Burung itu tergeletak di rumput. Pak Kindo sangat iba melihat keadaan burung itu. Dengan hati-hati, ia memungut burung itu dan membawanya pulang ke rumah.

Pak Kindo merawat burung itu dengan penuh sayang. Burung itu ia beri nama Petito. Pak Kindo memberinya makan, minum, dan merawat sayapnya yang patah. Istri Pak Kindo tidak suka melihat kelakuan suaminya itu. Menurut istrinya, Pak Kindo hanya membuang waktu percuma.

Beberapa waktu kemudian, sayap Petito pun sembuh. Ia kini bisa terbang lagi. Karena tak ingin Pak Kindo bertengkar terus dengan Bu Kindo, Petito memutuskan untuk pulang ke sarangnya.

Pak Kindo sangat sedih ketika tahu Petito telah pergi. Pak Kindo lalu mencarinya kesana-kemari. Akhirnya, Pak Kindo menemukan sarang Petito. Pak Kindo sangat senang. Petito juga senang. Petito dan keluarganya menyambut Pak Kindo dengan gembira. Mereka terbang mengitari Pak Kindo. 

Sebagai ucapan terimakasih, Petito memberikan sebuah kotak kecil untuk Pak Kindo.

“Jangan dibuka sebelum sampai di rumah, Pak Kindo…” pesan Petito.

Pak Kindo menuruti pesan Petito. Setiba di rumah, barulah ia membuka kotak kecil itu. Ternyata kotak itu berisi batu-batu permata yang mahal. Istri Pak Kindo sangat girang. Namun, ia merasa permata itu kurang banyak. Bu Kindo ingin memiliki permata lebih banyak lagi.

Esoknya, Bu Kindo datang ke sarang Petito. Petito juga memberikan Bu Kindo sebuah kotak kecil.

“Jangan dibuka sebelum sampai di rumah, Bu Kindo…” pesan Petito.

Akan tetapi, Bu Kindo tidak sabaran. Di tengah jalan, ia membuka kotak kecil itu.

“Whussshhh…”

Tiba-tiba keluarlah asap dari kotak itu. Asap itu lalu berubah menjadi monster yang mengerikan. Bu Kindo lari ketakutan dan monster itu mengejarnya. 

Sejak hari itu, Bu Kindo tidak pernah muncul lagi di desanya. Pak Kindo kini tinggal sendirian. Karena merasa kesepian, Pak Kindo lalu mendirikan pondok di dekat sarang Petito. Tentu saja Petito sangat gembira. Ia dan keluarganya setiap hari datang membawa benih bunga untuk menghiasi halaman rumah Pak Kindo. Ketika bunga-bunga itu tumbuh, halaman rumah Pak Kindo menjadi indah. 

(Dok. Majalah Bobo/Folklore)