Ada Maaf Dalam Persahabatan 2

By Sylvana Toemon, Jumat, 23 Maret 2018 | 05:00 WIB
Ada Maaf dalam Persahabatan (2) (Sylvana Toemon)

Cerita sebelumnya klik di sini.

Joy dan Jenny bersahabat. Ketika Jenny sakit, Joy meminjamkan buku catatan IPA-nya. Ternyata buku itu dirobek adik Jenny. Pada saat pelajaran IPA, Joy dihukum duduk di luar kelas karena mencatat di kertas. Joy mengharap Jenny menjelaskan pada Bu Guru agar ia tidak dipermalukan. Tetapi Jenny diam saja. Joy sangat kecewa. Rasanya waktu berlalu amat lama.

Akhirnya jam pelajaran IPA berakhir dan dilanjutkan Matematika. Lalu istirahat kedua. Setelah bel berbunyi, anak-anak berhamburan ke luar kelas. Joy masih duduk di bangkunya dengan wajah murung. Jenny mendekatinya dan berkata, "Maaf, Joy, karena kesalahan adikku kamu jadi dihukum!"

"Aku tidak menyalahkan adikmu. Aku kesal karena tadi kamu diam saja. Mestinya kamu jelaskan pada Bu Diah. Jadi ia mengerti duduk persoalan sebenarnya. Tapi, ternyata kamu tidak peduli. Kamu tega membiarkan aku dihukum dan dipermalukan!"

"Maaf, tadi tidak terpikir olehku. Andaikata terpikir aku juga tidak mempunyai keberanian!" kata Jenny.

"Biar sekarang saja kujelaskan pada Bu Diah. Yuk, kita ke ruang guru!"

"Untuk apa lagi?" seru Joy dengan sengit. Amarahnya meledak.

"Aku sudah menjalani hukuman dan sekarang kamu berlagak mau jadi pahlawan. Sudah, lebih baik kita tak usah bersahabat. Bersahabat  pun tak ada gunanya kalau begini."

Joy menelungkupkan kepalanya di meja dan menangis. Jenny berusaha membujuknya, tapi Joy menyuruhnya pergi. Ketika pulang sekolah, Joy lari meninggalkan Jenny. Di seberang jalan di depan sekolah ia lekas-lekas naik bus menuju ke rumahnya. Jenny berjalan sendiri dengan sedih dan melangkah lambat-lambat walaupun matahari bersinar dengan terik.

Sore itu Joy pergi ke rumah Rut, kawan sekelas yang tinggal satu kompleks dengannya. Ia meminjam catatan IPA Rut. Ketika ditanya, ia menceritakan masalahnya.

"Memang, sayang sekali Jenny diam saja waktu Bu Diah marah. Tapi masuk akal kalau ia tidak berani. Ibu Diah marahnya hebat, sih. Sekarang, ya berbaik kembali saja. Bukankah kita juga selalu diajar untuk mengampuni sesama?" kata Rut.

Tapi Joy tidak memerlukan khotbah kawannya. Hatinya masih dipenuhi kepahitan dan kemarahan. la lekas-lekas pamit sambil berjanji besok ia akan mengembalikan catatan IPA tersebut.

 Keesokan harinya Jenny berusaha menegur Joy, tapi Joy diam saja. Ia pun tak menjemput Jenny, la iangsung naik bis ke sekolah.

Ketika kawan sebangku Joy, Mira mau meminjam tipp-ex, Joy yang biasa murah hati dan berwajah ceria, kini bisa berkata dengan ketus, "Tak usah pinjam-pinjam. Beli saja di koperasi sekolah."

Sejak hari itu Joy berubah. Wajahnya murung dan jangan harap ada orang yang bisa meminjam apa pun dari Joy. la menjadi pendiam. Sekarang ia malah mulai rajin pergi ke perpustakaan sekolah, satu hal yang dulu tak pernah dilakukannya. Rut yang gemuk itu berusaha mendekati Joy, tapi Joy enggan berkawan dengan siapa pun. Jadi Rut mendekati Jenny dan segera Jenny dan Rut mulai akrab. Ketika Lily mengadakan pesta ulang tahun, Joy tidak datang. Esoknya orang ramai mempercakapkan bahwa sudah ada pasangan duet yang baru, yaitu JR, Jenny dan Rut.

Hati Joy bertambah hancur. Ternyata Jenny benar-benar telah melupakannya. Dalam hati sebetulnya Joy masih merindukan persahabatannya dengan Jenny. Tapi, kalau ia ingat saat ia dihukum di luar kelas, kekesalannya pada Jenny timbul lagi. Lagi pula tampaknya Jenny pun sekarang tidak berusaha mendekatinya lagi.

Suatu ketika Rut sakit. Kata anak-anak ia sakit campak. Walaupun rumahnya dekat, Joy tidak menengoknya. Setelah dua minggu tidak masuk sekolah, suatu sore Rut datang ke rumah Joy. Badannya agak kurus dan kulitnya masih ada tanda bintik-bintik yang memudar. Kata dokter seminggu lagi ia boleh sekolah.

"Joy, aku mau pinjam buku catatan dan PR matematikamu. Selama 2  minggu  aku banyak ketinggalan. Aku mau mengejarnya. Tolonglah Joy. Aku takut rapor cawu l-ku kebakaran," pinta Rut.

Joy terdiam. la mengerti benar bahwa Rut tidak begitu pandai. Angkanya pas-pasan. Tapi, bukankah Rut sudah jadi sahabat Jenny? Seharusnya Jenny yang menolongnya, bukan Joy. Rasanya ia ingin menolak saja. Tapi, waktu hari naas itu, bukankah  Rut yang meminjamkan catatan IPA-nya? Lagi pula, kasihan juga melihat keadaan Rut. Andaikata Joy yang sakit, siapakah yang akan meminjamkan catatan pada Joy? Satu-satunya kemungkinan adalah Rut. Kawan lain tak ada yang peduli padanya.

"Mengapa tidak pinjam pada sahabatmu. Sahabat kan bukan dalam senang saja, dalam susah juga!" pancing Joy.

"Kamu benar, tapi aku dan Jenny belum bisa disebut sahabat. Minat kami sangat berbeda. Kami hanya sekedar berkawan. Aku suka membaca buku cerita, dia tidak. Dia suka berkhayal tentang masa depan, sedangkan aku tak bisa. Dia suka berenang dan makan es krim, sedangkan aku tak suka. Dia menyesal karena kehilangan persahabatan dengan kamu. Dia masih terus mendoakan kamu. Dia merasa sangat bersalah," Rut menjelaskan.

Joy masih diam. Bingung, tak tahu mau menjawab apa.

Apa yang terjadi selanjutnya? Bisakah kekerasan hati Joy dicairkan? Ikuti cerita selanjutnya

Bersambung

Sumber: Arsip Bobo. Cerita: Widya Suwarna.