Cergam Bobo: Museum Upik

By Sylvana Toemon, Minggu, 8 April 2018 | 23:00 WIB
Cergam Bobo: Museum Upik (Sylvana Toemon)

Emak ingin membuat kue panggang. Tapi, panci pemanggang kue tidak ada. Aduuuh, di mana, ya? “Ah, ya, aku menyimpannya di loteng!” seru Emak. Ups, ternyata loteng berantakan sekali!

“Aku harus menemukannya. Kalau tidak ada panci pemanggang itu, aku tidak bisa membuat kue,” keluh Emak. Wah, itu tidak boleh terjadi! Bapak mengajak anak-anak beramai-ramai membersihkan loteng.

“Hei, aku menemukan mainan kereta api!” seru Bobo. Upik langsung tertarik. “Sini. Kita hadiahkan buat Tut Tut!” Upik mengambil mainan itu lalu berlari ke bawah.

“Eh, ini kan pesawat yang kita rangkai ramai-ramai waktu itu,” kata Coreng. “Sayang, sayapnya patah sebelah.” Upik mengambil mainan itu. “Tidak apa-apa. Buat aku saja!” serunya.

“Ternyata banyak harta karun di sini!” seru Upik dengan semangat. Berkali-kali Upik menemukan mainan-mainan yang menarik, lalu lari naik turun loteng dengan gembira.

“Ini dia panci ajaib Emak!” seru Bapak. “Asyik, akhirnya kita bisa makan kue!” Coreng berteriak gembira. Emak pun segera menyiapkan kue buat mereka.

“Ahhh, akhirnya selesai juga,” kata Bapak. Dia mengajak anak-anak turun. Tiba-tiba Bapak berteriak, “Astaga! Kenapa barang-barang bekas dari loteng jadi menumpuk di sini?” Upik tertawa. “Ini koleksiku. Selamat datang di Museum Upik!” Bapak menepuk dahinya. “Ugh, gudangnya pindah ke ruang keluarga, deh!”

Sumber: Arsip Bobo. Cerita: Vero. Ilustrasi: Rudi