Sutera, Kain dari Kepompong Ulat

By willa widiana, Sabtu, 2 Desember 2017 | 09:35 WIB
Kepompong ulat sutera (willa widiana)

Teman-teman mungkin sudah tidak asing dengan kain sutera. Namun, Teman-teman sudah tahu belum kalau kain ini terbuat dari kepompong ulat?

Bombyx mori

Kain sutera berasal dari kepompong ulat sutera (Bombyx mori). Beberapa orang biasanya beternak ulat sutera. Saat ulatnya berubah menjadi kepompong, para peternak akan mengubahnya menjadi benang dan menjualnya. Benang inilah yang menjadi bahan utama pembuatan kain sutera.

Dipelihara

Ulat sutera yang ada di peternakan akan diberi makan terus menerus selama 18 hari. Setelah 18 hari, tubuh ulat sutera akan lebih besar dan padat, warnanya juga berubah jadi kekuningan. Jika sudah begitu, ulat sutera akan membungkus dirinya dengan kepompong.

Setelah berubah menjadi kepompong, para peternak akan memindahkan kepompong itu ke tempat khusus. Di tempat khusus itulah, kepompong diubah menjadi benang sutera. Satu kepompong bisa menghasilkan 300 – 900 meter benang. Jika sudah banyak, benang akan ditenun menjadi kain sutera. Proses panjang inilah yang membuat harga kain sutera mahal.

Baca Juga: Kain Stagen, Pelengkap Pakaian Tradisional Jawa

2600 Sebelum Masehi

Kain sutera sudah ada di Tiongkok sejak tahun 2600 sebelum masehi. Di zaman itu, kain sutera termasuk kain mewah. Harga kain sutera sama dengan harga emas. Karena hal itu, kain sutera pun hanya dipakai oleh keluarga kerajaan dan keluarga orang kaya.

Kotak Fakta

Sekarang, kain sutera sudah menyebar ke seluruh dunia. Namun, kebanyakan kain sutera itu berasal dari Tiongkok.

Peternak ulat sutera biasanya punya beberapa ekor indukan. Satu ekor indukan bisa menghasilkan 500 butir telur. Ulat yang menetas dari telur indukan itulah yang akan diubah menjadi kain sutera. Indukannya akan dipelihara terus menerus.

Foto: Creative Commons