✕

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, Perpaduan Agama Islam dan Budaya Tionghoa

Cirana Merisa, Iveta Rahmalia
Sabtu, 10 Februari 2018 | 03:17 WIB

Bangunan berwarna merah dan hijau ini ternyata adalah masjid.

Bobo.id – Masjid merupakan tempat ibadah umat beragama Islam yang biasanya berbentuk seperti kubah pada atapnya.

Namun, apa jadinya kalau bangunan masjid berbentuk seperti kelenteng?

Setidaknya begitulah bentuk Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Ho

Kalau kita lihat sekilas dari luar, bangunan ini akan terlihat seperti kelenteng.

Berwarna merah dan hijau dengan sedikit warna kuning keemasan, bangunan ini ternyata adalah masjid.

Masjid yang bernama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya ini dibangun hanya dalam waktu 7 bulan dan diresmikan pada tanggal 12 Oktober 2002.

Iklan tidak tersedia saat ini.

Selain di Surabaya, sebenarnya ada beberapa masjid yang juga dibangun seperti kelenteng.

Masjid-masjid itu diberi nama sesuai dengan nama Laksamana Cheng Ho.

Baca juga: 4 Masjid Tertua di Indonesia Laksamana Cheng Ho

Cheng Ho sendiri merupakan seorang laksamana asal Tiongkok yang beragama Islam.

Cheng Ho sangat ahli dalam berdagang, lo.

Nah, saat berdagang itulah, Laksamana Cheng Ho juga menyebarkan agama Islam di daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Laksamana Cheng Ho datang ke Indonesia sekitar tahun 1416.

Saat itu, ia bersama pasukannya mendarat di Pantai Simongan, Semarang.

Mereka mengunjungi Kerajaan Majapahit dan juga menyebarkan agama Islam.

Baca juga: Cheng Ho, Penjelajah Samudera dari Timur Perpaduan Islam dan Tionghoa

Pintu masuk masjid ini seperti bangunan pagoda yang dilengkapi dengan relief naga dan patung singa dari lilin.

Namun yang membuat masjid ini terlihat seperti masjid adalah ada tulisan Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda.

Ada juga beduk yang diletakkan di sebelah kiri masjid.

Masjid ini panjangnya 11 meter dan lebarnya 9 meter dengan 8 sisi di bagian atas bangunan utama.

Memang masjid ini kecil, hanya bisa menampung 200 umat saja, tapi justru yang unik adalah angka-angkanya.

Angka 11 merupkan ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo.

Sedangkan angka 8 melambangkan Pat Kwa atau keberuntungan dalam budaya Tionghoa.