Kue Dadar Lapis Madu

  • Minggu, 14 Januari 2018 09:00 WIB

Kue dadar lapis madu | Dok. Majalah Bobo

Nenek Martha yang baik hati ingin sekali makan kue dadar lapis madu kegemarannya. Dia membuka kotak uang simpanannya.

“Ah, masih cukup untuk membeli kue sepotong besar,” gumamnya.

Nenek Martha mengambil topi dan keranjangnya, lalu berangkat ke toko kue. Belum jauh dia berjalan, ada suara memanggilnya.

“Nenek Martha, tunggu!” Nenek Martha menoleh. Rupanya Pak Medi, tetangganya. “Maukah Nenek membeli sekantong gandum saya? Saya perlu uang untuk beli obat. Anak saya baru saja jatuh.”

Nenek Martha ragu-ragu. Kalau dia membeli gandum Pak Medi, uangnya tidak akan cukup untuk membeli sepotong besar kue dadar lapis madu. Akan tetapi, dia tidak tega melihat anak Pak Medi yang menangis dengan lutut berdarah.

“Ah, aku masih bisa membeli kue dadar lapis madu potongan kecil,” pikirnya. Nenek Martha menyodorkan beberapa keping uang dan menerima gandum Pak Medi.

“Terima kasih, Nek.” Nenek Martha tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.

Kira-kira lima menit berjalan, Nenek Martha bertemu kusir delman yang sedang berjongkok di samping delmannya.

“Nek, ban delman saya bocor. Saya tidak membawa uang untuk ongkos menambalnya. Padahal, saya harus mengangkut pesanan gula ke kota.”

Nenek Martha merasa kasihan dan ingin memberi uang. Tapi, bagaimana dengan kue dadar lapis madunya?

Sumber : dok. Majalah Bobo

Reporter : Sylvana Toemon
Editor : Sylvana Toemon

KOMENTAR

MOST READ

Adikku Manis

2 hari yang lalu

Diuji dengan Mimpi

19 jam yang lalu

Ketika Dihukum Mama

14 jam yang lalu

Pertemuan di Atas Andong

3 hari yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×