Upacara Bakar Batu di Papua untuk Menciptakan Kebersamaan

By Yomi Hanna, Rabu, 31 Mei 2017 | 02:26 WIB
Foto: yukpegi.com (Hanna Vivaldi)

Setiap daerah di Indonesia menyimpan keunikan tersendiri, seperti bahasa daerah, pakaian adat, makanan khas, maupun kebiasaan masyarakatnya.

Makna upacara Bakar Batu

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Papua memiliki tradisi yang cukup unik yaitu upacara Bakar Batu . Ini merupakan upacara tradisional yang penting dilakukan oleh masyarakat di sana.

Tujuan upacara ini adalah untuk menunjukkan rasa syukur, menyambut kebahagiaan atas kelahiran, kematian, atau dilakukan untuk mengumpulkan prajurit ketika berperang.

Suku yang tinggalnya di daerah pegunungan terkenal dengan cara memasak mereka, yaitu dengan membakar batu. Inilah suku yang biasanya melakukan upacara Bakar Batu.

Upacara unik ini tidak hanya memiliki satu sebutan, misalnya bagi masyarakat Paniai menyebutnya dengan Gapiia dan masyarakat Wamena menyebutnya dengan Kit Oba Isogoa.

Proses upacara Bakar Batu

Tradisi ini dimulai dengan penyerahan babi sebagai persembahan oleh masing-masing kelompok suku, sebagian orang akan menari, lalu sebagian orang akan menyiapkan batu dan kayu. Awalnya batu akan ditumpuk hingga sedemikian rupa kemudian dibakar hingga menjadi batu menjadi panas.

Ada hal yang menarik dalam proses perburuan babi yang diyakini masyarakat setempat. Ketika kepala suku memanah lalu babi tersebut langsung mati, ini berarti bahwa acara yang dilaksanakan akan sukses. Sedangkan jika babi tidak langsung mati, mereka yakin bahwa acaranya kemungkinan besar tidak akan sukses.

Setelah batu tadi sudah panas, hal yang mereka lakukan selanjutnya adalah memasak babi persembahan tadi. Para lelaki dari suku ini bertugas menggali lubang yang cukup dalam, kemudian batu panas tadi dimasukkan ke dalam lubang yang sudah diberi alas daun pisang dan alang-alang. Daun pisang dan alang-alang itu berguna untuk menghalangi uap panas pada batu agar tidak menghilang dan menguap.

Di atas batu yang panas, ditambahkan dedaunan sebagai tempat untuk potongan babi, sayuran, dan ubi jalar diletakkan. Begitulah cara masyarakat di sana untuk memasak makanan, menggunakan batu panas untuk membuat makanan menjadi matang.

Tradisi ini menciptakan kebersamaan

Setelah makanan sudah matang, semua orang berkumpul dalam kelompoknya masing-masing lalu mulai makan bersama. Mereka percaya bahwa tradisi seperti ini dapat menciptakan kebersamaan dalam diri stiap orang.

Di masa kini, tradisi Bakar Batu tidak dilakukan hanya saat perayaan kelahiran dan kebahagiaan lagi. Tradisi ini semakin berkembang dan mulai digunakan untuk menyambut tamu besar yang sedang berkunjung ke Papua, misalnya pejabat negara.