Misteri Hyena dan Senecoza (Bag. 1)

  • Jumat, 29 Desember 2017 13:00 WIB

Misteri Hyena dan Senecoza (Bag. 1) | Public Domain

 

Sejak pertama kali melihat Senecoza, pria penjual cinderamata Afrika itu, Steve tidak percaya padanya. Steve baru saja tiba di Pantai Timur, Afrika.  Mungkin karena Steve berasal dari Virginia, kota besar, maka ia selalu berhati-hati.

Tubuh Senecoza sangat tinggi, sekitar 190 cm. Berat badannya kira-kira seratus kg. Tubuhnya bagai raksasa berotot. Dahinya tinggi, matanya melotot, hidungnya tipis. Rambutnya sama keritingnya dengan suku Bushman dan warna kulitnya lebih hitam dari suku Masai. Steve yakin, Senecoza berasal dari suku yang berbeda dari suku-suku yang ia kenal.

Para pekerja di peternakan jarang melihat Senecoza. Namun, ia bisa tiba-tiba muncul di antara pekerja peternakan. Biasanya, ia akan berjalan melewati rumput-rumput setinggi bahu di padang rumput. Kadang ia tampak sendirian. Kadang dia diikuti beberapa orang suku Masai yang bergerombol agak jauh dari pagar benteng peternakan. Orang-orang suku Masai pedalaman biasanya membawa tombak. Mereka selalu gugup dan curiga pada orang asing.  

Senecoza biasanya akan mengucapkan salam dengan sopan pada pekerja peternakan. Namun entah kenapa, Steve tetap curiga padanya. Mata Senecoza seperti sedang mengejeknya.

Pria tinggi itu biasanya datang membawa dagangannya. Benda-benda sederhana seperti ketel tembaga, kendi, pisau, gelang manik-manik, serta jimat pelindung. Setelah menerima uang dari para pekerja yang membeli dagangannya, ia akan pergi tanpa banyak bicara.

Steve tidak menyukai Senecoza. Dan karena masih muda dan tidak sabaran, Steve menceritakan isi hatinya pada  Ludtvik Strolvaus, sepupunya. Ludtvik adalah pemilik peternakan yang sekaligus sebagai tempat perdagangan ternak. Steve tinggal di tempat itu, membantu pekerjaan Ludtvik.  

Mendengar cerita Steve, Ludtvik hanya tertawa terbahak-bahak sambil memegang janggut pirangnya. Katanya, pria berotot itu sebetulnya baik hati.

"Di antara penduduk asli di sini, dia memang yang paling kuat. Semua takut padanya. Tapi, ia teman orang kulit putih seperti kita, Steve!” kata Ludtvik.

Ludtvik sudah lama tinggal di Pantai Timur. Ia tahu persis tentang suku-suku asli di daerah itu. Ia juga sangat ahli soal ternak Australia yang diternaknya di peternakan itu. Namun, ia kurang memerhatikan hal-hal kecil, pikir Steve.

Sumber : dok. Majalah Bobo

Reporter : Vanda Parengkuan
Editor : Vanda Parengkuan

KOMENTAR

MOST READ

Cerita

Misteri Rumah di Rawa Kappa

11 jam yang lalu

Cerita

Kan Kusediakan Waktu

14 jam yang lalu

Cerita

Akibat Saling Mengalah

19 jam yang lalu

Cerita

Burung Biru

16 jam yang lalu

Cerita

Cerita

Segudang Info

22 jam yang lalu

MOST READ

Adikku Manis

3 hari yang lalu

Misteri Rumah di Rawa Kappa

11 jam yang lalu

Diuji dengan Mimpi

2 hari yang lalu

Kan Kusediakan Waktu

14 jam yang lalu

Ketika Dihukum Mama

2 hari yang lalu

Nekomata dan Peluru ke-13

3 hari yang lalu

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×