Tari Soya-Soya Menujukkan Semangat dan Sikap Pantang Menyerah Rakyat Ternate, Ketahui Sejarah Tarian Ini, yuk!

Tyas Wening Rabu, 22 April 2020 | 11:46 WIB
Tari Soya-Soya menampilkan nilai dan sikap pantang menyerah (Kompas Images/Andrean Kristianto)

Makna Tarian Berubah Menjadi Kebangkitan Rakyat

Meski awalnya tarian ini berakar dari penyerbuan dan penjemputan yang dilakukan oleh rakyat Ternate, makna tarian kemudian berubah, nih.

Tarian Soya-Soya yang bermakna penjemputan ini kemudian beralih menjadi bangkitnya perjuangan rakyat Kayoa, Maluku Utara untuk melawan penjajah dari Portugis di akhir abad 16.

Nah, karena sejarah tarian inilah, tarian Soya-Soya dianggap sebagai penyemangat masyarakat Ternate mengenai kebangkitan.

Selain itu, tari Soya-Soya yang punya nilai kepahlawanan ini juga menjadi pengingat mengenai perjuangan rakyat Ternater dan Kayoa dalam mengusir penjajah.

Baca Juga: Mengenal Rendang, Masakan Indonesia yang Masuk Daftar Makanan Terenak di Dunia

Tari Soya-Soya Banyak Menggunakan Gerakan Kaki

Gerakan tari Soya-Soya ini lebih banyak pada gerakan kaki yang lincah, cepat, dan penuh energi, nih, teman-teman.

Makna di balik gerakan kaki pada tarian ini adalah untuk menunjukkan semangat yang dimiliki oleh pasukan Sultan Baabullah yang menyerbu markas Portugis untuk menjemput pemimpinnya.

Selain itu, gerakan penuh semangat ini juga menunjukkan bahwa mereka pantang menyerah dalam melakukan penyerbuan.

Gerakan lain dalam tarian ini mirip dengan gerakan ketika akan berperang, yaitu menyerang, mengangkis, dan mengelak.

Baca Juga: Keren, Anak-Anak dari Nusa Tenggara Berhasil Jadi Penenun Cilik!

Dalam tari Soya-Soya, tidak ada jumlah pasti peserta yang melakukan tarian ini, namun biasanya dibawakan oleh lebih dari tiga orang pria dan pesertanya berjumlah ganjil.

Jumlah ganjil ini untuk menunjukkan jumlah pasukan yang awalnya genap oleh pemimpin pasukan.

Meski jumlah pesertanya tidak pasti, semakin banyak peserta tari Soya-Soya, maka tarian akan semakin menunjukkan semangat, seperti akan melakukan penyerbuan.

Source : Indonesia Kaya
Penulis : Tyas Wening
Editor : Iveta Rahmalia