Biji dan Serbuk Ajaib Si Pako

By Sylvana Toemon, Jumat, 20 April 2018 | 08:00 WIB
Biji dan serbuk ajaib Pako (Sylvana Toemon)

Pako ingin sekali melanjutkan sekolah. Namun, ayah dan ibunya tidak sanggup membiayainya. Kini Pako setiap hari pergi ke hutan bersama ayahnya. Mereka mencari ranting-ranting kering, pisang, pepaya dan buah-buah liar untuk dijual ke pasar di kota.

Suatu hari ketika Pako akan mengambil ranting di hutan, ia melihat benda berwama merah. Ooh, rupanya Kurcaci Berbaju Merah. Ia sedang berusaha melepaskan jenggotnya yang terjepit di akar pohon. Pako segera mematahkan akar kecil itu.

"Terima kasih, Nak. Ah, aku memang ceroboh berjalan-jalan sampai ke sini. Tak ada satu pun kawanku yang sampai ke daerah ini!" ujar si Kurcaci.

Pako tersenyum mendengarnya.

"Oh ya. Aku akan memberimu hadiah!" si Kurcaci membuka sebuah karung cokelat kecil.

"Ini ada dua biji ajaib. Dan kantung ini berisi serbuk ajaib!" si Kurcaci menyerahkan dua biji sebesar merica, dan kantung kecil berisi serbuk ajaib. "Biji ini akan tumbuh semakin tinggi bila disirami air. Dan bila kau taburkan serbuk ini pada seseorang, orang itu akan menciut jadi kecil. Bila kautaburkan sekali lagi maka ia akan kembali ke ukuran semula!"

Pako mengucapkan terima kasih dan menyimpan benda-benda ajaib itu.

Tiba-tiba saja timbul harapan baru di hati Pako. Mudah-mudahan saja dengan benda-benda itu ia bisa melanjutkan sekolah. Pada suatu hari, setelah selesai berdagang, Pako berjalan-jalan di kota. Di dekat kios bunga, ia mendengar percakapan dua dayang istana.

"Aku akan beli bunga seruni putih kesukaan Putri Lila. Kasihan, dia selalu murung dan tak mau makan!" kata Dayang Pertama.

"Bibi Tinka memang licik. Adik baginda raja itu tidak suka pada Putri Lila. Ia ingin menguasai istana. Kasihan, Baginda Raja mengira putrinya sedang sekolah di luar negeri. Tidak tahunya dikurung di puri!" kata Dayang Kedua.

Pako mendengarkan percakapan kedua dayang Putri Lila itu sampai selesai. "Aku harus menolong Putri Lila," pikir Pako.

Sore hari itu, Pako menyelinap ke halaman istana. Ia menaruh sebuah biji ajaib di dekat puri dan menyiraminya dengan air kolam. Wow, biji itu pun tumbuh tinggi sampai ke atap puri. Pako memanjati pohon ajaib itu. Lalu masuk lewat jendela puri di lantai tujuh. Di lantai tujuh itulah Putri Lila terkurung. Putri Lila yang sebaya dengan Pako sangat terkejut. Pako buru-buru memperkenalkan dirinya. "Aku ingin menolongmu. Ayahmu perlu tahu perbuatan jahat bibimu!" kata Pako.