Pada zaman dahulu kala, tinggallah sebuah keluarga. Ayah, Ibu, serta tiga anak mereka. Suatu ketiga, sang Ayah meninggal dunia. Ia dimakamkan di pemakaman umum tepi kota yang cukup jauh.
Pada hari ketujuh setelah sang Ayah wafat, Ibu ketiga anak itu masih merasa sedih kehilangan suaminya. Ia ingin membawa bunga ke makam suaminya. Maka ia berpesan pada ketiga anaknya.
“Ibu akan pergi membawa bunga untuk di makam Ayah. Selama Ibu pergi, kalian harus saling menjaga, ya. Sebab ada raksasa tua yang jahat. Dia pandai menyamar menjadi manusia. Dia bisa meniru suara dan rupa. Kalian harus berhati-hati. Siapapun yang datang, jangan bukakan pintu.”
Ketiga anak itu berjanji akan berhati-hati. Mereka mengantar ibu mereka sampai di muka rumah.
“Adik-adik, ayo, cepat masuk rumah lagi,” kata si anak pertama pada kedua adiknya.
Sang Ibu memerhatikan ketiga anaknya dari jauh dengan agak cemas. Namun ia ingin sekali membawa bunga untuk makam suaminya. Maka, ia pun pergi dengan hati gelisah.
Baru saja sang Ibu pergi, raksasa tua yang diceritakan sang Ibu tadi, datang ke rumah ketiga anak itu. Ia mengetuk pintu dan berkata, “Anak-anak, ibumu sudah kembali.”
“Kalau kau ibu kami, tunjukkan tanganmu!” kata ketiga anak itu.
Raksasa tua itu menuruti perintah mereka, dan menunjukan tangannya. Ketiga anak itu bergantian mengintip di lubang kecil di pintu. Tampak sebuah tangan yang berbulu-bulu tebal dan kasar.
“Tangan ibu kami kecil dan halus. Tidak berbulu seperti itu. Kau pasti raksasa tua jahat,” kata anak-anak itu.
Raksasa tua itu segera pergi dari rumah itu. Ia mencari alat cukur, lalu mencukur habis semua bulu-bulu di tangannya. Ia juga mengambil tepung gandum, dan menggosok ke tangannya. Lalu ia kembali ke rumah ketiga anak itu.
“Sekarang ibumu sudah kembali,” kata raksasa tua itu di depan pintu.