Hadiah Naik Kelas

By Sylvana Toemon, Jumat, 6 April 2018 | 05:00 WIB
Hadiah naik kelas (Sylvana Toemon)

Ayah dan Ibu berpandangan mendengar kata-kata Heri. Lalu mereka menggelengkan kepalanya.

"Heri, belajar itu adalah tugas setiap anak. Ya, agar ia kelak menjadi anak yang pandai. Kalau ia pandai, dia bisa menjadi guru, dokter atau seorang pelukis terkenal," Ibu menerangkan dengan sabar.

"Nah, kau, kan, ingin menjadi dokter hewan seperti Ayah. Dapat menyembuhkan binatang-binatang yang sakit. Waktu Ayah sebesar kau, Ayah tak pernah minta hadiah jika naik kelas!"

"Tapi itu, kan, dulu, Yah! Sekarang, sih, lain!" jawab Heri tak puas. Wajahnya masih saja asam.

"Eeeh, kalau belajar, sih, dari dulu sampai sekarang sama saja," tukas Ayah lagi. "Belajar itu untuk kebaikan diri sendiri. Kalau pandai, diri kita yang pandai. Bukan Ayah, Ibu, Bu Guru atau siapa saja!" tukas Ayah lagi. "Oh yah, sebenarnya Ayah dan Ibu pun mempunyai hadiah istimewa untukmu."

"Hadiah istimewa?" tanya Heri dengan wajah berseri-seri. "Lego, ya! Lego yang bisa dibuat tank dan benteng. Wah, asyik!"

"Bukan! Lebih istimewa dari itu! Teman bermain yang tak akan rrtembosankanmu!" sambung Ibu.

"Ohooo, adik!" pekik Heri seraya mencubit lengan ayahnya.

"lya, sekarang Heri mengerti. Rajin belajar itu menguntungkan diri sendiri dan tak boleh minta hadiah!"

"Nah, itu baru namanya anak Ayah dan Ibu sambil tersenyum.

Sumber: Arsip Bobo. Cerita: Cis.