Bobo.id – Mungkin sebagian dari teman-teman ada yang tidak suka dengan kehadiran ular dan katak.
Seperti yang teman-teman ketahui, ular merupakan hewan yang dianggap berbahaya karena memiliki bisa.
Bisa ular memang bisa melukai manusia, bahkan menyebabkan kematian.
Banyak orang yang langsung membunuh ular agar lingkungan tempat tinggal jadi aman.
Begitu juga dengan katak, sebagian orang merasa jijik dengan kehadiran hewan amfibi ini.
Maka itu, katak juga sering dibunuh.
Namun, ternyata membunuh ular dan katak memengaruhi keseimbangan lingkungan, lo.
Apa yang terjadi jika terlalu banyak ular dan katak yang dibunuh?
BACA JUGA: Katak Warna-Warni dari Vietnam
Pentingnya Ular bagi Manusia
Bisa atau racun yang dimiliki ular di alam merupakan senjata mereka untuk bertahan dari musuh dan juga mematikan mangsanya dalam sekejap.
Biasanya ular suka memangsa hewan kecil, seperti tikus.
Nah, tikus merupakan hama bagi Pak Tani. Karena itu, kehadiran ular sebenarnya berguna untuk mengurangi jumlah tikus.
Coba teman-teman bayangkan, apa yang terjadi jika tidak ada ular? Pasti tikus makin banyak.
Nah, supaya rumah kita jauh dari ular, sebaiknya jaga kebersihan lingkungan sekitar, ya. Kalau banyak tumbuhan liar dan tikus, bisa jadi ular akan senang menghampiri rumah kita.
Selain itu, jangan biarkan tumpukan kayu, bambu, atau papan di halaman atau pojokan rumah. Beri tahu juga kepada orangtuamu untuk merapikan tananaman serta menyapu dan mengepel lantai setiap hari.
BACA JUGA: Katak Hijau Glow in The Dark
Peran Katak Bagi Lingkungan
Selain dijadikan makanan, katak merupakan predator berbagai serangga atau larva serangga.
Di alam bebas seperti di sawah, katak memakan berbagai jenis serangga yang menjadi hama pertanian.
Selain itu, amfibi ini merupakan indikator alami kerusakan lingkungan, lo!
Jadi, katak dan ular ini penting dalam rantai makanan.
BACA JUGA: Unik, Katak Satu Ini Punya ‘Kumis Duri’ di Mulutnya! Apa Fungsi?
Lihat video ini juga, yuk!
Menuju Dua Dekade, National Geographic Indonesia Gelar Pameran Foto Sudut Pandang Baru Peluang Bumi
Penulis | : | Felixia Amanda |
Editor | : | Iveta Rahmalia |
KOMENTAR