Baca Juga: Dongeng Anak: Bintang Langit dan Raksasa Merah
“Nah, itu rumahku!” tunjuk si tikus. Tuan Restarick tertegun. Sebuah sepatu bot tinggi menjulang di hadapannya. Pada sisinya diberi pintu dan jendela. Tampak asap mengepul pada bagian atasnya yang terbuka. Lo… bukankah itu sepatu kanannya yang hilang?
“Mari, Tuan!” si tikus mempersilakan masuk. Tuan Restarick mengikuti dari belakang. Ufff… Tuan Restarick menutup hidung. Ternyata sepatunya yang telah menjadi rumah tikus itu sangat bau.
Di dalam sepatu, keluarga tikus menunggu. Ada istri tikus dan tiga ekor anaknya yang masih merah mendecit-decit berisik. Tuan Restarick bergidik jijik.
“Silakan makan!” istri tikus menawarkan makanan. Sepiring daging busuk dan sepotong keju berjamur diletakkan di atas meja.
“Aku tak mau memakan makanan itu!” tolak Tuan Restarick.
“Tapi makanan ini kami ambil dari dapurmu! Kau harus memakannya!” istri tikus merasa tersinggung.
“Tidaak mauuu!” Tuan Restarick berteriak panik.
Tok! Tok! Tok! Pintu rumah diketuk. Tuan Restarick terjaga dari tidurnya. Ooooh… syukurlah, dia cuma bermimpi! Tuan Restarick membuka pintu. Muncul seorang perempuan tua ramah sambil tersenyum padanya.
“Kejutan! Aku sengaja datang kemari untuk membawakanmu makanan. Aku memasak sup kacang merah lezat kesukaanmu!”
“Ooh, Bibi Helda!” Tuan Restarick menarik napas lega. Perempuan itu adalah bibinya yang tinggal di seberang desa.
“Waaah… rumahmu sangat kotor!” seperti biasa Bibi Helda mengomeli Tuan Restarick setiap kali mampir ke rumahnya. Bibi Helda segera membersihkan rumah, menaruh barang-barang di tempatnya.