Bobo.id - Setelah ibu atau ayah selesai memasak di rumah, biasanya kita diminta untuk segera makan.
Katanya, kalau makanannya dingin akan berkurang kenikmatannya.
Mungkin teman-teman juga pernah merasakannya saat makan makanan dari kemarin malam atau tadi pagi.
Apa yang membuat makanan hangat punya rasa yang berbeda dengan makanan yang sudah dingin, ya?
Rahasianya ada di lidah kita, lo. Tapi sebelumnya kita cari tahu dulu kisah manusia purba dan makanannya, yuk!
Kisah Manusia di Zaman Purba
Jutaan tahun lalu, manusia belum memasak makanannya, teman-teman.
Karena manusia di zaman purba belum menemukan api.
Sehingga mereka hanya bisa makan makanan yang dingin dan mentah.
Namun, dua juta tahun lalu, Homo erectus menemukan api dan penemuan ini mengubah gaya hidup manusia purba.
Baca Juga : Sejak Kapan Manusia Mulai Memasak Makanannya? Ayo Cari Tahu!
Spesies hominid pun mulai menggunakan api untuk memasak makanan dan mengusi hewan buas agar bisa tidur dengan nyenyak.
Makan makanan yang dimasak juga memengaruhi tubuh manusia purba, lo.
Tubuh juga berevolusi karena makanan dingin dan mentah lebih sulit dicerna. Karena hanya ada ludah dan cairan lambung yang membantu mencerna.
Sementara makanan yang dimasak mengalami proses yang membuat proses pencernaan menjadi lebih mudah.
Karenanya, salah satu evolusi tubuh yang terjadi adalah manusia kini memiliki asam lambung yang tidak begitu kuat untuk mencerna makanan mentah. Berbeda dengan para manusia purba.
Kemudian, makanan yang dimasak juga menambah kalori sehingga manusia jadi punya lebih banyak energi.
Di sisi lain, makanan yang dimasak membuat penyakit dari makanan mentah menurun. Ditambah lagi, aroma makanan yang bereaksi dengan panas juga enak.
Ini membuat indra penciuman mengarahkan kita pada makanan yang sudah dimasak.
Baca Juga : Maori Hangi, Tradisi Memasak dengan Oven Bawah Tanah, Cari Tahu, yuk!
Lidah Manusia
Lalu, mengapa bisa ada perbedaan rasa makanan di lidah kita saat makanan hangat atau dingin, ya? Padahal kan bahan-bahannya sama saja.
Setelah peradaban manusia semakin modern, banyak ilmuwan yang mempelajari tentang indra perasa dan penciuman manusia.
Di lidah kita ada reseptor atau ujung saraf yang peka terhadap rangsangan.
Reseptor di lidah kita mengirimkan sinyal ke otak untuk merasakan rangsangan berupa makanan.
Rupanya, reseptor penerima rasa ini bekerja lebih baik dalam suhu yang tinggi.
Makanan dan cairan memiliki rasa asin, umami, manis, dan asam yang lebih kuat di mulut kita dalam keadaan hangat, teman-teman. Rasa kuat ini berlaku untuk rasa yang kita anggap enak maupun yang tidak enak, lo.
Namun, ada rasa yang lebih kuat dalam keadaan dingin, yaitu rasa pahit.
Misalnya rasa pahit pada kopi panas sedikit tertutup oleh suhunya yang hangat. Namun, eskrim terasa lebih manis saat meleleh di mulut kita.
Baca Juga : Umami Jadi Rasa Kelima pada Makanan, Cari Tahu Tentang Umami, yuk!
Reseptor kuncup pengecap di lidah kita jumlahnya ada sekitar 10.000. Setiap reseptor memiliki 50-100 sel yang bisa mendeteksi setiap jenis rasa.
Inilah mengapa ada makanan yang lebih nikmat jika dikonsumsi saat hangat. Ada juga yang lebih nikmat dikonsumsi saat dingin.
Ini karena intensitas rasanya di lidah manusia dipengaruhi oleh suhu.
Kemudian, menurut peneliti, kondisi lidah ini juga dipengaruhi oleh evolusi manusia sejak jutaan tahun lalu. Yaitu kecenderungan manusia yang lebih suka makan makanan hangat.
Itulah rahasia lidah kita, teman-teman. Ingin tahu rahasia lidah yang lainnya? Baca artikel terkait, yuk! #AkuBacaAkuTahu
Baca Juga : Sensasi Pedas Cabai Berbeda dengan Sensasi Pedas Wasabi, Kok Bisa?
Yuk, lihat video ini juga!
15 Contoh Ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 H, Bisa Ditulis di Kartu atau Dikirim Melalui Pesan Teks
Source | : | Science ABC |
Penulis | : | Avisena Ashari |
Editor | : | Avisena Ashari |
KOMENTAR