Berpisah dengan keluarga memang menjadi hal yang menyedihkan. Itulah yang dirasakan Cendan dan Seta. Walaupun penghuni hutan di sekitar mereka memang sangat baik, tetapi tetap saja kerinduan dengan keluarga sendiri tetap ada.
Setelah berpikir beberapa hari, Cendan dan Seta memutuskan melakukan pencarian keluarga. Pertama-tama pencarian keluarga Seta terlebih dahulu karena mereka berpisah di sekitar hutan.
Mendengar Cendan dan Seta akan pergi berhari-hari untuk menemukan keluarga, Bura si beruang yang suka memasak, menyiapkan berbagai makanan enak untuk mereka bawa. Hari dan Tuan Lanlan juga memberikan peta dan peralatan lainnya. Semua hewan berkumpul untuk memberi semangat pada Cendan dan Seta. Ada Sisi, ada Jira, ada Gaga, Momo, dan banyak lagi lainnya.
“Teman-teman, terima kasih, ya, sudah memberikan banyak hal,” kata Cendan.
“Walaupun Seta baru mengenal kalian, tetapi kalian sangat sayang pada Seta,” kata Seta.
Mereka semua pun berpelukan.
Sisi berbisik pada Seta dan Cendan,”Kami semua keluarga kalian. Ingat itu, ya.”
Seta dan Cendan pun begitu terharu.
Perjalanan dimulai. Cendan dan Seta melambaikan tangan pada teman-temannya. Cendan terbang ke langit hutan yang cerah.
Kemarin, Gaga si Gajah mendapat kabar dari segerombolan semut merah bahwa ada semut hitam yang mencari keluarganya di sekitaran sungai. Gaga teringat pada Seta dan langsung mengabarkan padanya. Seta begitu bersemangat sehingga perjalanan ini pun dimulai.
Setelah terbang dan beristirahat beberapa kali, sampailah Cendan dan Seta di sungai yang dikatakan Gaga. Hari sudah mendekati matahari terbenam. Seta melihat Cendan kelelahan.
“Cen, kamu istirahat dulu saja. Aku akan coba cari-cari sekitar sini,” kata Seta.
“Tidak, nanti kau tersesat kalau sendirian,” kata Cendan.
“Aku janji kembali sebelum matahari terbenam,” jawab Seta.
Cendan pun akhirnya setuju. Ia mengizinkan Seta melanjutkan pencariannya, sedangkan ia memang butuh istirahat.
“Jangan terlalu dekat dengan air, nanti kau hanyut. Bagian hutan ini sangat sepi, jadi susah dapat pertolongan,” kata Cendan. Seta mengangguk.
Seta memulai pencariannya di tepian sungai. Dalam hati ia menyimpan rasa rindu pada keluarganya.
“Ayah, Ibu, kakak, apa kalian disini? Ini Seta datang,” kata Seta berkali-kali. Kadang suaranya begitu besar, kadang juga hanya berbisik pelan.
Setelah berjalan cukup jauh, Seta belum juga menemukan siapa-siapa, termasuk keluarganya.
“Kau cari siapa semut kecil?” tiba-tiba ada suara mendekat.
Seta menoleh, ternyata itu seekor kumbang.
“Aku mencari keluargaku. Sudah lama kami berpisah karena badai,” kata Seta.
“Keluargamu? Semut hitam… Ada tiga semut hitam yang aku temui tadi yang juga mencari keluarganya,” kata kumbang.
“Tiga semut hitam? Itu pasti Ayah, Ibu, dan kakakku,” kata Seta.
“Mereka berjalan terus ke arah Timur, aku menemukannya di balik dekat batu sana,” kata kumbang sambil menunjuk batu besar yang masih bisa Seta lihat.
Seta bersiap menuju kesana. Ia merasa akan menemukan keluarganya.
“Kau yakin akan ke sana sekarang? Itu cukup jauh, dan hari sudah mulai malam,” kata kumbang.
Seta jadi teringat janjinya pada Cendan untuk kembai ke tempat beristirahat sebelum langit gelap. Bagaimana ini? Seta bingung. Ia ingin menemui keluarganya dan takut mereka akan terpisah semakin jauh. Namun, ia juga sudah berjanji pada Cendan untuk kembali. Seta terdiam di tepi sungai.