Rahasia Nana dan Pak Win

By Sylvana Toemon, Senin, 7 Mei 2018 | 13:00 WIB
Rahasia Nana dan Pak WIn (Sylvana Toemon)

Keluarga Pak Bambang baru dua hari pindah ke rumah baru. Anak tunggal mereka, Nana, karena belum mempunyai teman, terpaksa bermain sendiri di halaman rumah. Nana baru berumur 5 tahun.

Bosan bermain sendiri, Nana berjalan mengitari rumahnya. Ketika melewati halaman belakang, Nana menemukan sebuah rumah terbuat dari papan. Nana segera mendekati rumah itu.

"Kreee...k!!" la membuka pintu yang tak terkunci itu.

Ternyata rumah papan itu adalah sebuah gudang. Di dalamnya terdapat kursi rusak, tangga bambu, gulungan selang, sepeda rusak dan beberapa perabotan dapur yang tak terpakai. Nana mendekati sebuah kardus yang terletak di lantai. Kardus ini sudah jelek dan agak basah. Tampaknya atap gudang yang bocor yang membasahi kardus itu. Ingin tahu isinya, Nana segera membuka kardus itu.

"Boneka-boneka!!" seru Nana kegirangan seperti baru menemukan harta karun.

Segera ia mengeluarkan isi kardus itu satu persatu. Ada boneka panda, boneka kelinci, boneka kucing. Sayang, semuanya sudah jelek kena air hujan.

"He, boneka ini masih bagus!" seru Nana tiba-tiba ketika melihat sebuah boneka anak perempuan yang terbuat dari kain. Rambut boneka itu terbuat dari benang wol yang dikepang. Bola matanya besar dan dapat bergerak-gerak. Boneka itu adalah satu-satunya boneka yang masih bagus, karena terbungkus rapi dengan plastik. Nana langsung menyukai boneka itu.

"Mulai nanti malam, kau temani aku tidur, ya," ucap Nana.

Tiba-tiba boneka itu tersenyum. Nana sangat terkejut. Ia segera lari menjumpai Mama.

"Boneka ini tadi tersenyum, Ma. Nana tidak bohong," Nana meyakinkan Mama.

Mama tersenyum sambil membelai kepala anaknya. Melihat senyum Mama, Nana yakin Mama tidak percaya pada ceritanya.

Keesokan harinya, Nana bermain dengan bonekanya di bawah pohon mangga di halaman. Tiba-tiba, ia melihat seorang bapak menyapu di halaman rumahnya. Nana segera menemui Mama.