Mereka berdua masing-masing diusung di atas tandu yang dihias indah. Dalam perjalanan ke istana, tiba- tiba mereka dihadang gerombolan perampok. Para pengawal berusaha melawan tetapi perampok-perampok itu sangat kuat. Untung, serombongan tukang kayu datang untuk menolong mereka. Opo Dawi dan Kune sangat berterima kasih pada mereka.
Mereka lalu bertanya, “Hadiah apa yang kalian inginkan?”
“Kami tidak menginginkan hadiah apa pun. Namun, sudikah Opo Dawi dan Kune menginap di rumah kami malam ini? Istri dan anak-anak kami tentu akan bangga sekali jika ada calon penasihat Datu mau menginap di rumah kami,” mohon para tukang kayu. Opo Dawi dan Kune berjanji akan mengabulkan permintaan itu.
Tak lama kemudian, tibalah mereka di istana. Bermacam-macam hidangan lezat telah tersedia. Sambil menikmati hidangan, Datu Lutang menguji kepandaian Opo Dawi dan Kune. Ternyata, Kune memang tidak kalah pandai. Semua pertanyaan yang bisa dijawab oleh Opo Dawi, juga bisa dijawab oleh Kune.
Ketika malam semakin larut, Opo Dawi teringat akan janjinya. la segera pamit kepada Datu Lutang.
“Ah, lupakanlah janji itu! Menginaplah di istanaku!” ucap Datu Lutang.
“Ya... lupakan saja janji dengan tukang-tukang kayu itu. Lebih nikmat tidur di istana. Lagi pula, makanan di meja masih banyak! Nyam, nyam,” sambung Kune sambil menggigit paha ayam cakar.
“Maafkan hamba, Datu! Hamba sebenarnya ingin sekali menginap di istana yang megah ini. Namun, hamba tidak biasa mengingkari janji,” ucap Opo Dawi.
Malam itu, Opo Dawi menginap di rumah tukang kayu. Keesokan harinya, ketika bangun tidur, Opo Dawi sangat terkejut!
“Selamat pagi, Opo Dawi! Hari ini, Opo diundang Datu ke istana. Opo Dawi akan dinobatkan menjadi Penasihat Datu di depan rakyat!” ucap tukang kayu.
“Lo, kau tahu dari mana? Mengapa kau memakai pakaian prajurit?” tanya Opo Dawi bingung.
Baca Juga: Dongeng Anak: Sahabat Sahabat Baru Tovo
Penulis | : | Sarah Nafisah |
Editor | : | Sarah Nafisah |
KOMENTAR