Pak Willem tinggal di lantai atas, di apartemen yang sama dengan Tony dan Toby. Sebetulnya dia pelukis hebat, namun tak seorang pun bersedia membeli lukisannya.
Tony mendekat. “Hei, sana! Pergi! Jangan ganggu orang tua!” hardik Tony. Namun anak-anak itu malah mengolok-olok Tony.
“Tony temannya orang gila! Tony temannya orang gila!”
Tony tak peduli. Ia menghampiri Pak Willem yang jambang, janggut dan kumisnya tak pernah dicukur. Tampaknya Pak Willem jarang mandi. Bau terpentin dan cat minyak semerbak menyengat dari tubuhnya. Tony merasa kasihan. Ditimang-timangnya uang hasil penjualan koran.
“Bapak sudah makan?” tanya Tony ragu.
Pak Willem menggeleng.
“Ambillah untuk makan malam!” kata Tony sambil memberikan tiga penny, lalu buru-buru meninggalkan lelaki itu. Sebetulnya, Tony agak takut juga pada Pak Willem yang berpenampilan menyeramkan.
“Hei, bocah kecil!” tiba-tiba Pak Willem memanggil. Tony gemetar.
“Ambillah ini sebagai hadiah!” seru Pak Willem sambil mengulurkan kanvasnya. Pak Willem memberinya lukisan bunga dalam jambangan yang indah. Dengan ragu Tony menerima hadiah itu. Lukisan itu terlalu bagus, tidak sepadan dengan uang tiga penny tadi. Ketika Pak Willem pergi, Toby langsung menghampiri Tony.
“Bodoh sekali menukar tiga penny dengan barang tak berharga!” omelnya. Tony diam saja. Ia tahu, Pak Willem belum makan berhari-hari. Jadi harus ada seseorang yang membantunya.
Sejak itu, Tony tak pernah lagi bertemu dengan Pak Willem. Menurut cerita para tetangga, Pak Willem dibawa ke rumah sakit jiwa. Dan beberapa bulan kemudian meninggal dunia.
Baca Juga: Dongeng Anak: Roti Raksasa
Kue Kering yang Wajib Ada, Ini 5 Resep Kastengel Spesial untuk Sajian Hari Raya
Penulis | : | Sarah Nafisah |
Editor | : | Sarah Nafisah |
KOMENTAR